Pengertian, Fungsi dan Jenis Database

Apa Kalian tahu? Website yang sedang Kalian akses, artikel yang sedang Kalian baca ini, bahkan aplikasi yang biasa Kalian download di internet, semuanya tersimpan di dalam sebuah tempat penyimpanan yang bernama database. Database adalah tempat semua data dapat tersimpan dengan sistem yang efektif dan efisien, sehingga Kalian bisa mengakses data tersebut dengan sangat mudah. Karena itu, Apa sih database ? Apa fungsinya ? dan ada berapa jenis penyimpanan tersebut?
Kali ini, Kami akan membahas itu semua. Jadi simak baik baik ya penjelasan berikut !!

Database

Pengertian Database

Database adalah kumpulan data yang di simpan dengan sistem tertentu, dan saling berhubungan, sehingga dapat di kelola dengan mudah. Database penting untuk mengatur data yang jumlahnya banyak, dan selalu bertambah. Seperti program website, aplikasi, dan lainnya.

Apabila Kalian sedang membangun website. Tentunya Kalian akan memiliki banyak data, seperti gambar di halaman website, plugin, theme, dan lainnya.  Tanpa penyimpanan ini, data tersebut hanya akan tersimpan di komputer Kalian pastinya, dan tidak bisa diakses oleh orang lain. Dengan kata lain, orang lain harus mengakses data dari komputer Kalian dulu secara langsung. Selain riskan, aksesnya juga akan ribet, bukan? Nah, dengan begini, data website Kalian dapat di simpan dalam satu server. Berapapun jumlah datanya, bisa di sesuaikan dengan kemampuan server tersebut. 

Dengan begitu, data mampu di olah bersamaan sehingga aktivitas browsing untuk melihat website Kalian dapat berjalan dengan sistem yang baik. Karena sistem penyimpanan tersebut mampu mengelola data dengan baik. Kalian juga bisa mengatur file sesuai dengan klasifikasinya, misalnya teks, gambar dan lainnya. Jadi, ketika membutuhkan suatu data, Kalian dapat menemukannya dengan cepat dan tepat.

Fungsi Database

Berikut adalah fungsi yang wajib kalian ketahui :

1. Mempercepat dan Mempermudah Identifikasi Data

Kalian bisa membuat sebuah sistem yang dapat  mengelompokkan data dan menyimpannya secara terstruktur. Jadi, ketika ada permintaan akses sebuah data, informasinya bisa di berikan dengan cepat sesuai kategori yang sudah di tentukan sebelumnya.

2. Menyimpan Data dengan Lebih Aman

Mengumpulkan data ke dalam satu penyimpanan, yang artinya fokus perlindungan keamanannya menjadi lebih baik. Jika data masih tersebar di beberapa perangkat, maka setiap perangkat perlu di amankan. Tapi kalau sudah terpusat di penyimpanan ini, Kalian cukup mengamankan server dengan perlindungan berlapis.

3. Mengontrol Data Secara Terpusat

Tanpa penyimpanan tersebut, data akan terpencar di berbagai penyimpanan secara lokal sesuai dengan pihak yang memiliki data tersebut. Dengan adanya penyimpanan ini, semua data bisa di kumpulkan dalam satu tempat. Jadi, Kalian pun bisa mengelola berbagai data dari pusat secara lebih efisien.

4. Menghindari Duplikasi Data

Setiap data yang tersimpan dalam penyimpanan ini dapat di atur agar terhindar dari data ganda. Sistem database dapat di rancang untuk mengidentifikasi data yang sama, sehingga dapat memberikan warning atau notifikasi ke pengelolanya. Misalnya, dengan menerapkan sistem kata kunci atau primary key. 

5. Menghemat Biaya

Kalian tidak memerlukan banyak tempat untuk menyimpan data. Cukup satu server untuk berbagai kebutuhan data. Secara biaya tentu jauh lebih murah di banding menyediakan beberapa tempat penyimpanan sendiri.

6. Dapat Di akses Multi-User

Jika data di simpan secara offline di perangkat berbeda, untuk mengakses sebuah file tentu harus menghubungi pemiliknya dulu. Hal ini menyimpan semua data dalam satu sistem. Maka, siapapun bisa mengaksesnya dengan mudah, asalkan memiliki hak akses. Mulai dari programmer, administrator, hingga pengunjung pada umumnya. 

5 Komponen Database

1. Data

Data adalah file-file yang berisi informasi, baik teks, log, gambar, dan lainnya. Di dalam penyimpanan ini, data akan di simpan dengan struktur tertentu. Sehingga mudah di kenali. Biasanya, struktur tersebut terdiri dari:

  • Field – Satuan informasi yang rinci, seperti nama produk, harga, stok, dan lainnya.
  • Record – Kumpulan dari field, yang membentuk satu informasi unik. Seperti, harga dari suatu produk.
  • Table – Kumpulan dari record, isi dari sebuah file.
  • Database – Kumpulan dari tabel atau file.

2. Sistem Operasi

Sistem operasi bertanggung jawab atas semua sistem yang ada di komputer atau server. Pilihlah sistem operasi yang mendukung sistem database yang akan Kalian bangun. Bisa menggunakan Windows atau Linux.

3. Database Management System (DBMS)

DBMS adalah aplikasi pengelolaan database. Dengan DBMS, Kalian bisa lebih mudah ketika  menginput dan mengupdate data. Saat ini ada beragam pilihan aplikasi database yang bisa Kalian gunakan. Contohnya Kalian ingin mengelola database pada website, Kalian bisa menggunakan MySQL.

4. Hardware

Hardware adalah perangkat keras yang di gunakan untuk menyimpan dan mengelola data. Kalau untuk penyimpanan secara lokal atau di jaringan tertentu, hardware yang di gunakan adalah komputer, disk, memori, dan lainnya. Sedangkan untuk penyimpanan data online seperti website, server hostinglah yang di gunakan.

Jenis-Jenis Database

1. Operational Database

Operational database atau OLTP (On Line Transaction Processing) adalah jenis database yang dapat mengelola data dinamis secara real-time. Jadi, Kalian bisa mengakses dan memodifikasi penyimpanan secara langsung dari perangkat keras Kalian. Database jenis ini sering di gunakan karena dapat mengelola data berbasis SQL atau NoSQL. 

Selain itu, operational database juga dapat di kolaborasikan dengan distributed database. Sehingga bisa meningkatkan performa penyimpanan tersebut, seperti skalabilitas dataketersediaan data, hingga fault tolerance. Jadi, sistem tetap berjalan meski terdapat komponen yang rusak.

Contohnya: Microsoft SQL Server, AWS Dynamo, Apache Cassandra, dan MongoDB.

2. Distributed Database

Sesuai namanya, jenis ini merupakan sistem penyimpanan yang terdistribusi. Artinya, data di simpan dalam beberapa komputer di tempat yang sama dan di hubungkan melalui jaringan. Misalnya, data di satu perusahaan dapat tetap terhubung dan terorganisir dengan baik, walaupun data tersebar di beberapa komputer. Sistem ini menguntungkan pengguna, karena dapat memproses data yang berbeda oleh beberapa perangkat sekaligus. 

Jika ingin memperluas sistem penyimpanan jenis ini, Kalian hanya perlu menambahkan perangkat baru dan menghubungkannya ke sistem. Karena penyimpanan data terdistribusi, jika satu server gagal memproses data, maka tidak akan mempengaruhi keseluruhan data. Contohnya: Apache Ignite, Apache Cassandra, Apache HBase, Couchbase Server, Amazon SimpleDB, Clusterpoint, dan Foundation DB.

3. Relational Database

Jenis ini paling sering di gunakan. Di namakan relational, karena data di simpan dalam beberapa tabel yang saling terkait atau berhubungan (membentuk relasi). Jenis ini juga memiliki empat sifat yang di kenal sebagai ACID, yaitu:

  • Atomicity – Memastikan data sukses di operasikan atau tidak sama sekali. Jadi, jika satu data gagal di operasikan, maka semua data juga akan gagal.
  • Consistency – Data dapat di kembalikan dalam keadaan sebelumnya, jika proses data gagal.
  • Isolation – Data yang sedang di proses akan terisolasi dari proses-proses lainnya.
  • Durability – Memastikan data tersimpan di dalam sistem dan tetap aman, bahkan dalam keadaan restart system.

Dengan sifat seperti ini, pemeliharaan data dapat di lakukan dengan mudah dan aman. Untuk penyimpanan jenis ini, Kalian memerlukan RDBMS atau Relational Database Management System. Biasanya, RDBMS ini menggunakan bahasa SQL atau Structured Query Language. SQL adalah bahasa pemrograman yang paling umum di gunakan untuk membaca, membuat, memperbarui, dan menghapus data. Contohnya: MySQL, PostgreSQL, MongoDB, MariaDB, Oracle Database, IBM DB2, SAP HANA, MemSQL, Interbase, dan Firebird.

4. Cloud Database

Jenis ini merupakan sistem yang menyimpan data secara virtual, bukan disimpan dalam server fisik. Karena tidak membutuhkan server fisik, maka data yang disimpan pun dapat dikembangkan atau ditingkatkan skalanya. Selain itu, pemeliharaannya pun tidak serumit server fisik, karena Jenis ini dapat dijalankan melalui cloud computing platform. Contohnya: Amazon Web Service (AWS), Oracle Database, Microsoft Azure, Google Cloud Platform, IBM DB2, MongoDB Atlas, OpenStack.

5. NoSQL

NoSQL atau Not Only SQL adalah database non-relational. Artinya, data yang dapat tersimpan bukan hanya berbentuk tabel, melainkan juga data tipe lainnya. Jenis ini biasa digunakan oleh website atau aplikasi yang membutuhkan pemakaian fleksibel, seperti Google dan Facebook. Fleksibilitas itulah yang menjadikan NoSQL sebagai database yang dapat di tingkatkan skalanya dan mengikuti perkembangan kebutuhan data.

Jenis dan Contohnya :

  • Key-Value Database -Menyimpan setiap data sebagai kunci yang memiliki nilai. Jenis ini memiliki skalabilitas tinggi dan dapat menangani volume lalu lintas data yang masif. Biasa di gunakan untuk web app, game online, dan keranjang belanja online. Contoh: Amazon DynamoDB dan Redis.
  • Document-Oriented Database – Menyimpan dan mengelola data sebagai dokumen, biasa di gunakan untuk aplikasi seluler dengan kebutuhan akses ulang data yang cepat. Contoh: MongoDB, Amazon DocumentDB, Apache CouchDB.
  • Graph Database – Menyimpan data yang di dominasi gambar atau grafik, seperti pada media sosial. Contoh: Datastax Enterprise Graph dan Neo4J.
  • Wide-Column Database – Menyimpan data dalam kelompok kolom besar, bukan dalam baris dan kolom (relational database). Wide-Column dapat menangani petabyte data, sehingga cocok untuk mendukung aplikasi real-time big data. Contoh: BigTable, Apache Cassandra, dan Scylla.

6. End-User Database

End-User Database artinya semua data dapat diakses, di kelola, dan di kembangkan oleh pengguna. Nah, pengguna akhir yang berhubungan langsung dengan jenis ini inilah yang disebut end-user database.  Data yang sudah berinteraksi dengan end-user biasanya data siap pakai. Artinya, data bisa di baca oleh manusia, sudah bukan berupa data pemrograman lagi. Misalnya, spreadsheet, dokumen, dan lainnya. Contohnya : SQLite

7. Database Warehouse

Database warehouse adalah sistem penyimpanan yang sering kali di gunakan untuk pelaporan dan analisis data. Biasanya, bidang business intelligence menggunakan jenis ini sebagai pusat data sebelum diolah. Hal itu karena jenis ini dapat menyimpan data dari sumber yang berbeda-beda dan dapat diupload dari sistem operasi. Itu mengapa dinamakan warehouse atau “gudang”. Contohnya: Microsoft Access (Office), Oracle.

Kesimpulan

Database adalah kumpulan data yang dikelola dalam sebuah sistem sehingga bisa diakses dengan lebih mudah. Database bisa untuk menyimpan data secara offline maupun online. Di antara jenisnya, database relational adalah yang paling banyak digunakan. Jenis ini pula yang umum digunakan untuk membuat website, terutama dengan platform WordPress.

Apapun pilihannya, pastikan jenis database tersebut sesuai dengan kebutuhan Kalian, ya. Jangan lupa, kalau membangun sebuah website, selain databasenya harus baik, hosting websitenya juga harus dapat diandalkan. 

Sekian informasi yang kami buat dan semoga bermanfaat. Apabila mendapat kendala atau ada pertanyaan lebih lanjut, Kalian bisa langsung hubungi kami melalui livechat maupun email.

Tinggalkan komentar